Pantau Perkembangan COVID-19 di Yogyakarta

Yogyakarta (26/03/2020) jogjaprov.go.id – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sedang melakukan perumusan teknis terkait dengan re-alokasi anggaran untuk menghadapi pandemik Virus Corona. Hal tersebut dilakukan guna menjaga perekonomian daerah serta kesejahteraan masyarakat DIY tetap terstandar.

Sri Sultan mengungkapkan, pemerintah pusat sudah mengarahkan kebijakan terkait re-alokasi anggaran tersebut. Re-alokasi anggaran ini dilakukan guna memperkuat bantuan kepada masyarakat yang rentan terhadap dampak perubahan ekonomi yang di akibatkan oleh wabah Virus Corona. Menurut Sri Sultan, re-alokasi anggaran di OPD harus dilakukan dengan lebih hati-hati, sehingga jangan sampai terjadi anggaran yang mampu mendukung perekonomian justru tidak terakomodir.

Usai menggelar rapat dengan Forkopimda DIY, Kamis (26/03) di Gedung Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Gubernur DIY yang didampingi Wagub DIY serta Sekda DIY ini menghimbau perbankan untuk berkoordinasi dengan OJK, BI dan Pemda. Sri Sultan telah melakukan dialog dengan pihak-pihak tersebut agar membantu debitur mendapatkan peninjauan angsuran maupun pelunasan pinjaman pokok bunga apabila memungkinkan.

“Pemerintah daerah juga akan membantu debitur untuk menyelesaikan dan menjembatani dengan perbankan Yogyakarta sesuai arahan dari Bank Indonesia maupun OJK yang tadi sudah menjadi keputusan bersama,” ujar Sri Sultan.

Namun demikian, kekuatan pemerintah tentu tidak akan mampu menopang apabila tidak ada dukungan penuh dari masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Saat ini banyak sekali masyarakat perantauan asal DIY yang pulang kembali ke DIY karena daerah perantauan mereka menjadi zona merah. Hal itu mengakibatkan dalam dua hari terakhir DIY mengalami lonjakan jumlah masyarakat yang harus dipantau kondisinya.

Para pemudik ini tidak mungkin dicegah karena merupakan penduduk DIY. Oleh karena itu Sri Sultan menghimbau Bupati/Walikota se-DIY beserta perangkatnya untuk turun tangan menumbuhkan kesadaran pemutusan mata rantai Virus Corona.

“Mereka yang masuk ke Jogja harus diisolasi minimal 14 hari. Dari isolasi itu akan dilakukan pemeriksaan apakah positif atau negatif. Untuk itu, Lurah, Dukuh, Babinsa, Babinkamtibmas kami kerahkan untuk mendata mereka semua,” jelas Sri Sultan.

Untuk itu, Sri Sultan sangat berharap kepada masyarakat pemudik agar memiliki kesadaran diri untuk mengisolasi diri serta berkomunikasi dengan pejabat berwenang di lingkungannya. Dengan begitu, penangan akan semakin cepat dan tidak menularkan terhadap masyarakat lokal serta orang-orang yang berdomisili di sekitarnya.

“Fakta sampai hari ini yang ada di Jogja adalah jumlah masyarakat terpapar yang makin banyak itu semua adalah produk impor dalam arti tertular. Mereka bisa dipastikan telah melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang sudah merah, atau kontak dengan mereka yang baru saja melakukan perjalanan,” ujar Sri Sultan.

Lebih lanjut Sri Sultan berharap, jumlah lonjakan ODP yang hingga mencapai 1000 orang ini diharapkan mampu menjadi bahan instrospeksi dari masyarakat. Kebijakan yang diberlakukan pemerintah untuk menanggulangi bencana ini tidak akan menghasilkan jika tidak dibarengi kesadaran masyarakat. Nantinya, tidak hanya dampak ekonomi yang akan diterima masyrakat apabila tidak mematuhi kebijakan, namun akan merembet ke sektor lain.

“Kami harap masyarakat memahami tantangan kita hadapi ini memerlukan kebersamaan dan disiplin diri untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Mohon kerjasamanya,” tutup Sri Sultan.


 

Sri Sultan Hamengku Buwono X menyapa warga dengan memberikan pernyataan mengenai wabah pandemik COVID-19 yang sedang terjadi di Yogyakarta. Lewat agenda Sapa Aruh "Cobaning Gusti Allah awujud Virus Corona", Ngarsa Dalem akan menyampaikan pesan dan imbauan kepada masyarakat Yogyakarta secara langsung pada Senin (23/03) pukul 10.00 WIB di Bangsal Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut, Sultan menekankan kepada masyarakat DIY agar di masa tanggap darurat bencana virus corona ini, masyarakat harus menghadapinya dengan sikap sabar-tawakal, tulus-ikhlas, pasrah lahir-batin, disertai  ikhtiar yang berkelanjutan. Sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, masyarakat juga diimbau dan memiliki kesadaran untuk melakukan karantina diri selama 14 hari apabila merasa kurang sehat. Demikian halnya seperti dalam peribahasa Jawa “Gusti paring dalan kanggo uwong sing gelem ndalan” atau Tuhan akan memberi jalan kepada manusia yang mau mengikuti jalan kebenaran.

Disamping itu, Ngarsa Dalem turut mengingatkan bahwa sejatinya masyarakat harus menjaga diri, keluarga, dan masyarakat, dengan menjaga jarak. Penyebabnya adalah seringkali seseorang beranggapan bahwa dirinya sehat, namun tentunya tidak bisa memastikan bahwa kondisinya benar-benar sehat atau dengan kata lain adalah sebagai penyebar penyakit.

Selain upaya preventif yang dapat dilakukan, sejatinya manusia juga seyogyanya selalu mengingat sikap eling atau selalu mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengejawantahan sikap eling atas Sang Maha Pencipta dapat dilakukan dengan laku spiritual: “lampah” ratri, zikir malam, mohon pengampunan dan pengayoman-Nya. Musibah pandemik ini adalah satu satu takdir yang telah digariskan-Nya. Jangan marah bila musibah menimpa diri dan jangan sedih bila kehilangan sesuatu atau datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan.

Kita hanya bisa pasrah kepada Sang Maha Pencipta, agar senantiasa diberikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit dan segala petaka. Pun dijauhkan dari segala marabahaya yang besarnya melebihi kemampuan manusia.

Sultan mendoakan kepada seluruh masyarakat DIY supaya diberkahi kesehatan dan diridhai serta dicukupkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam setiap langkahnya. "Pamujiku: Sehat, sehat, sehat!. Mugi Gusti Allah ngijabahi. Rahayu kang pinanggih," ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.


Sri Sultan Himbau Kurangi Aktifitas di Ruang Publik

Sebisa mungkin, masyarakat di DIY harus mengurangi aktivitas di ruang publik atau melibatkan orang banyak. Hal ini adalah salah satu langkah antisipasi yang bisa dilakukan untuk meneka penularan Corona Virus Disease (COVID19). Kegiatan atau agenda yang sudah tersusun yang memiliki kriteria menyangkut hal di atas, sebaiknya ditunda atau diganti menjadi bentuk lainnya.


Langkah Terpadu Pusat dan Daerah Tangani Penyebaran Virus Korona

Sejak mengumumkan kasus positif virus korona di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, pemerintah meningkatkan langkah-langkah dalam menangani pandemi global dari Covid-19. Sebelum itu, pemerintah juga telah meningkatkan kesiagaan banyak rumah sakit dan peralatan yang sesuai dengan standar internasional, termasuk pada anggaran yang secara khusus dialokasikan bagi segala upaya pencegahan dan penanganan.


© Official website Pemerintah Daerah DIY. 2020