Pantau Perkembangan COVID-19 di Yogyakarta

Gunungkidul - Satu buah kendaraan penunjang penanganan covid-19 milik Polres Gunungkidul siap di fungsikan. Kendaraan operasional tersebut berupa kendaraan layanan kesehatan khususnya untuk melayani PCR merupakan bantuan dari Kapolri.

Kunjungan panglima TNI dan kapolri ke Kabupaten Gunungkid dalam rangka monitoring vaksin masal beberapa waktu lalu, disampaikan kepada Kapolri salah satu kendala yang di hadapi Gunungkidul adalah layanan PCR yang membutuhkan waktu yang lama karena kondisi geografis dan jauhnya sebaran penduduk Gunungkidul.

Keberadaan kendaraan tersebut bantuan dari Kapolri secara langsung di lihat oleh Bupati H.Sunaryanta dan jajaran Forkopimda, Senin (11/10) di halaman Mapolres Gunungkidul. 



Bupati H Sunaryanta dan Ketua DPRD yang melihat fasilitas kendaraan tersebut sangat berharap  mampu menjadi satu sarana dalam layanan PCR kepada masyarakat lebih efektif dan efisien. Secara teknis akan di lakukan koordinasi antara Pemda dan polres, tetapi dengan memiliki alat seperti ini setidaknya sudah memiliki antisipasi.

"Kita tidak tahu perkembanga covid sampai saat ini, kita sudah memiliki RS covid, jangan sampai lengah seakan- akan merasa aman tetapi timbul varian baru, dengan memiliki alat seperti ini setidaknya kita sudah mengantisipasi" kata Bupayi H Sunaryanta.

Hal senada di sampaikan. Kapolres gunungkidul, AKBP Aditya adanya unit tersebut tentu dapat memobilisasi layanan PCR kepada warga dimanapun dan kapanpun. Dengan adanya kendaraan layanan PCR hanya membutuhkan waktu 4 hingga 5 jam.

Dengan layanan mobil PCR ini Kemampuan layanan mencapai 50 sampai 60 orang.

Sementara untuk pelayanan akan segera dilaksanakan setelah adanya pelatihan yang diberikan kepada tenaga medis RSUD dan Dinas kesehatan oleh RS Bhayangkara Polda DIY, Terang Penda TK I Ngatimin Paurkes Polres GK.

Hadir dalam acara tersebut Bupati H.Sunaryanta, Ketua DPRD Endah Subekti Kuntariningsih, SE,
Komandan Kodim/0730GK Letkol. Kav. Anton Wahyudo, Kapolres Gunungkidul AKBP Aditya Galayuda Ferdiansyah, S.I.K.,M.T.
Wakapolres Kompol. B. Widya Musyikaningrum, S.Sos, Kajari Gunungkidul yang di wakili Kasi Intel Indra Saragih,S.H, Ketua Pengadilan Negeri Wonosari Endi Nurindra Putra, S.H., M.H, Kepala Dinas Kesehatan GK dr Dewi Irawati,M.Kes,Direktur RSUD Wonosari,Direktur RSUD Saptosari,Kepala BKAD, dan pejabat Pemkab lainya.

Sumber : gunungkidulkab.go.id


 

Keagamaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pedoman ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 29 tahun 2021 dan ditandatangani pada 7 Oktober 2021. Pedoman ini diterbitkan dalam rangka mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Saw, Natal, dan hari besar keagamaan lainnya pada masa pandemi Covid-19. 

Dikutip dari situs https://www.kemenag.go.id bahwa pedoman penyelenggaraan disusun dengan memperhatikan kondisi atau status daerah dalam konteks pandemi Covid-19. Untuk daerah level 2 dan level 1 misalnya, peringatan hari besar keagamaan bisa dilaksankaan tatap muka, tapi dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Untuk daerah level 4 dan level 3, peringatan hari besar keagamaan dianjurkan dilaksanakan secara virtual atau daring. Penyelenggara kegiatan dianjurkan menyediakan QR Code PeduliLindungi. Peserta yang hadir juga dianjurkan menggunakan aplikasi PeduliLindungi di rumah ibadat dan tempat lain yang digunakan untuk menggelar Peringatan Hari Besar Keagamaan. Dilarang untuk melakukan pawai atau arak-arakan dalam rangka Peringatan Hari Besar Keagamaan yang melibatkan jumlah peserta dalam skala besar.

Berikut ini ketentuan dalam Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Besar Keagamaan saat 

Pandemi:

1. Peringatan Hari Besar Keagamaan pada daerah dengan kriteria Level 2 dan Level 1 penyebaran Covid-19 dapat dilaksanakan secara tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat.

2. Peringatan Hari Besar Keagamaan pada daerah dengan kriteria Level 4 dan Level 3 penyebaran Covid-19 dianjurkan dilaksanakan secara virtual/daring.

 

3. Dalam hal daerah dengan kriteria Level 4 dan Level 3 penyebaran Covid-19 tetap melaksanakan Peringatan Hari Besar Keagamaan secara tatap muka hendaknya:

a. dilaksanakan di ruang terbuka;

b. apabila dilaksanakan di tempat ibadat (masjid/mushalla, gereja, pura, vihara, kelenteng/litang, dan tempat lain yang difungsikan sebagai tempat ibadat) atau ruang tertutup lainnya, jumlah peserta yang hadir paling banyak 50% (lima puluh persen) dari kapasitas ruangan atau 50 (lima puluh) orang;

c. peserta yang hadir diutamakan berasal dari warga daerah sekitar; dan

d. pelaksanaan kegiatan dan peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf 

c, tetap menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat dan telah dikoordinasikan dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat.

4. Penyelenggara Peringatan Hari Besar Keagamaan wajib:

a. menyediakan petugas untuk menginformasikan serta mengawasi pelaksanaan Protokol Kesehatan 5M;

b. melakukan pemeriksaan suhu tubuh untuk setiap jemaah menggunakan alat pengukur suhu tubuh (thermogun);

c. menyediakan hand sanitizer dan sarana mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir;

d. menyediakan cadangan masker medis;

e. melarang jemaah dengan kondisi tidak sehat mengikuti pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan;

f. mengatur jarak antarjemaah paling dekat 1 (satu) meter dengan memberikan tanda khusus pada lantai, halaman, atau kursi;

g. kotak amal, infak, kantong kolekte, atau dana punia ditempatkan pada tempat tertentu dan tidak diedarkan;

h. memastikan tidak ada kerumunan sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan dengan mengatur akses keluar dan masuk jemaah;

i. melakukan disinfeksi di tempat pelaksanaan kegiatan;

j. memastikan tempat ibadat atau tempat penyelenggaraan memiliki sirkulasi udara yang baik dan sinar matahari dapat masuk serta apabila menggunakan air conditioner (AC) wajib dibersihkan secara berkala;

k. memastikan pelaksanaan khutbah, ceramah, atau tausiyah wajib memenuhi ketentuan:

1) khatib, penceramah, pendeta, pastur, pandita, pedanda, atau rohaniwan memakai masker dan pelindung wajah (faceshield) dengan baik dan benar; dan

2) khatib, penceramah, pendeta, pastur, pandita, pedanda, atau rohaniwan mengingatkan jemaah untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan.

 

5. Peserta Peringatan Hari Besar Keagamaan wajib:

a. menggunakan masker dengan baik dan benar;

b. menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan menggunakan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer;

c. menjaga jarak dengan jemaah lain paling dekat 1 (satu) meter;

d. dalam kondisi sehat (suhu badan di bawah 37 derajat celcius);

e. tidak sedang menjalani isolasi mandiri;

f. membawa perlengkapan peribadatan/keagamaan masing-masing (sajadah, mukena, dan sebagainya);

g. membawa kantong untuk menyimpan alas kaki;

h. menghindari kontak fisik atau bersalaman;

i. tidak baru kembali dari perjalanan luar daerah; dan

j. yang berusia 60 (enam puluh) tahun ke atas dan ibu hamil/menyusui disarankan untuk beribadah di rumah.

6. Penyelenggara dianjurkan menyediakan QR Code PeduliLindungi dan peserta dianjurkan menggunakan aplikasi PeduliLindungi di rumah ibadat dan di tempat lain yang digunakan untuk mengikuti Peringatan Hari Besar Keagamaan.

 

7. Dilarang untuk melakukan pawai atau arak-arakan dalam rangka Peringatan Hari Besar Keagamaan yang melibatkan jumlah peserta dalam skala besar. 

Sumber : ppid.gunungkidulkab.go.id


Moderna COVID-19 Vaccine telah mendapatkan EUA (Emergency Use Authorization) dari Badan POM pada tanggal 1 Juli 2021. Sebelumnya Badan POM juga telah menerbitkan EUA pada 4 jenis vaksin COVID-19 yaitu CoronaVac dari Sinovac Life Science China, Vaksin COVID-19 yang diproduksi Biofarma menggunakan bulk yang diperoleh dari Sinovac Life Science China, Vaksin AstraZenexa dari Covax Facility dan Vaksin Sinopharm dari Beijing Bioinstitute Biological Product.

Moderna COVID-19 Vaccine merupakan vaksin yang dikembangkan dengan platform mRNA yang diproduksi oleh Moderna TX., Inc USA. Vaksin ini digunakan sebagai upaya pencegahan COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 untuk sasaran berusia 18 tahun ke atas. Vaksin COVID-19 Moderna diberikan secara injeksi intramuscular dengan dosis 0,5 mL dan 2 kali penyuntikan dalam rentang waktu 1 (satu) bulan.

Keamanan dan efikasi dari vaksin COVID-19 Moderna telah dikaji oleh Badan POM bersama dengan Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19 dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum keamanan vaksin ini dapat ditoleransi, baik reaksi lokal maupun sistemik dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang paling sering terjadi, antara lain nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan menggigil.Sementara untuk data efikasi, berdasarkan data uji klinik fase 3 pada tanggal21 November 2020, efikasi Moderna COVID-19 Vaccine untuk mencegah COVID-19 yang parah adalah sebesar 94,1% pada kelompok usia 18 hingga di bawah 65 tahun dan 86,4% pada kelompok usia 65 tahun ke atas. Hasil ini diperoleh melalui pengamatan mulai hari ke-14 setelah penyuntikan kedua.

Salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam pengadaan vaksin iniadalah dalam hal penyimpanan dan distribusinya. Moderna COVID-19 Vaccine merupakan vaksin mRNA yang memerlukan teknologi penyimpanan berbeda dari jenis vaksin dari platform inactivated virus yang sebelumnya telah memperoleh EUA. Vaksin ini perlu sarana penyimpanan pada suhu -200 C.

Saat ini vaksin COVID-19 Moderna diberikan sebagai booster dosis ketiga bagi tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan. Selain itu juga diberikan untuk masyarakat umum yang belum mendapatkan vaksinasi COVID-19 sama sekali. Cakupan vaksinasi booster bagi tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan di DIY sebesar 75,23% per tanggal 27 September 2021.

 

Sumber : BPOM dan Kemenkes RI


Pemerintah belum lama ini memperbarui aturan terkait vaksinasi COVID-19 untuk penyintas atau orang yang telah sembuh dari virus Corona. Disebutkan, vaksinasi dapat dilakukan kepada penyintas COVID-19 dengan gejala ringan-sedang minimal satu bulan setelah dinyatakan sembuh. Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, menyebut ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/1/2524/2021 yang ditandatangani oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu pada Rabu (29/9/2021).



Vaksinasi ini dibagi menjadi dua kategori, pertama, penyintas dengan kategori keparahan penyakit ringan sampai sedang dapat menerima vaksinasi dengan jarak waktu minimal 1 bulan setelah dinyatakan sembuh. Sementara untuk aturan berbeda diberikan kepada penyintas yang saat terinfeksi COVID-19 masuk dalam kategori berat. Untuk penyintas gejala berat, anjuran yang berlaku tetap menunggu 3 bulan setelah sembuh. Adapun jenis vaksin yang akan digunakan pada vaksinasi bagi penyintas ini pun menyesuaikan dengan ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan yang melakukan pemberian vaksinasi.

Sebagai informasi tambahan, sebelumnya para penyintas COVID-19 baru dapat divaksinasi minimal setelah 3 bulan usai sembuh. Pada saat itu tak ada aturan yang menjelaskan terkait tingkat keparahan penyakit yang dialami oleh penyintas. Hal ini disebabkan karena orang yang telah terinfeksi sebelumnya akan memiliki antibodi terhadap virus Corona secara alami. Sehingga vaksin pun lebih diprioritaskan bagi mereka yang belum punya antibodi sama sekali.

( artikel juga dimuat pada laman web dinkes.jogjaprov.go.id/berita )


Gunungkidul - Pemerintah Kabupten Gunungkidul terus berupaya mempercepat capaian vaksinasi dosis 1 dan 2 dengan melakukan vaksinasi masal bagi warga masyarakat Gunungkidul dan sekitarnya yang dilaksanakan di rest area hutan bunder Kapanewon Playen Gunungkidul, Rabu (6/10).

Pelaksanaan Vaksin masal ini di dukung oleh tiket dot Kom bekerjasama dengan pemerintah DIY, Badan Otoritas Borobudur, PKK dan Dinas Kesehatan Gunungkidul.

Sandra Darmosuwito selaku Public Relation Tiket.Com mengatakan bahwa wisata vaksinasi tiket.com merupakan bentuk peduli dan membantu program pemerintah vaksinasi Nasional.

"Semoga kegiatan ini dapat semakin mempercepat capaian vaksinasi yang menjangkau semua lapisan dan usia" ungkapnya

Pada kegiatan vaksin wisata tiket dot com ini menyediakan kuota 1750 dosis vaksin yang di bantu dari tenaga medis Dinas Keswhatan Gunungkidul



Sementara itu Indah Juanita dari Badan Otorita Borobudur menyampaikan hal senada bahwa kegiatan vaksinai sebagai upaya dukungan kepada pemerintah dalam percepatan capaian vaksinasi sehingga terbentuk herd Immunity dan  ekonomi bangkit  dengan tetap menjaga disiplin Prokes.

"Terimakasih juga disampaikam kepada pemerintah Gunungkidul dan seluruh pihak yang telah bersama berkolaborasi sehingga terwujud pelaksanaan vaksinasi ini" ungkapnya

Bupati H Sunaryanta yang hadir bersama ketua TP.PKK Gunungkidul Hj.Diah Sunaryanta mengucapkan  terimakasih atas peran dan dukungan seluruh pihak dalam mewujudkan capaian vaksinasi di Gunungkidul.

"tidak hanya dukungan dari pihak swasta, pemerintah kabupaten bersama TNI,Polri, BIN terus melakukan program percepatan vaksinasi masal, yang hasilnya sudah dirasakan bersama dengan capaian 70 persen lebih dosis pertama dari target jumlah penduduk Gunungkidul" ungkap Bupati

Tak lupa bupati juga sangat mengapresiasi peran dan kerja keras kepada seluruh tenaga kesehatan Gunungkidul yang tanpa lelah melayani masyarakat, semoga selalu diberikan kesehatan.

Pelaksanaan vaksinasi yang juga mendapatkan kehormatan dengan kunjungan Gusti putri, menyampaikan terimakasih atas dukungan seluruh pihak dan juga masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya vaksin.

"Semoga dengan semakin tingginya angka capaian vaksin, juga akan semakin cepat membuka gerakan ekonomi masyatakat, namun juga tetap untuk disiplin Prokes utamanya memakai masker" pesan Gusti putri.

( artikel juga dimuat pada laman web gunungkidulkab.go.id/berita )

© Official website Pemerintah Daerah DIY. 2020