Pantau Perkembangan COVID-19 di Yogyakarta

Optimalkan Penanganan, Wagub DIY Tindaklanjuti Usulan Pakar dan Satgas Pandemi

Yogyakarta (24/08/2021) jogjaprov.go.id – Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY, menerima sejumlah usulan dari para tenaga ahli dan tokoh masyarakat terkait penanganan Covid-19 DIY. Beberapa diantaranya mengenai penguatan integrasi data dan penerapan pendekatan budaya untuk mengubah perilaku masyarakat dalam menyikapi pandemi Covid-19. 

Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 bersama Satgas Covid-19 DIY secara daring, Selasa (24/08) siang. Sri Paduka mengikuti rapat dari Ruang Rapat Sekda DIY, Kompleks Kepatihan, didampingi Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Kepala Bappeda DIY Beny Suharsono, dan Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana. Agenda ini juga diikuti beberapa pimpinan OPD DIY yang terlibat dalam operasional penanganan Covid-19.

Beberapa ahli yang dilibatkan pada agenda tersebut yakni Prof. dr. Ova Emilia SpOG(K).(UGM), Eko Paripurna (UPN Veteran Yogyakarta), dr. Riris Andono Ahmad (UGM), Prof. Yayi Prabandari (UGM), Prof. Pande Made Kutanegara (UGM), dr. Darwito, SH., (PERSI), Dr. Indira Laksmi Gamayanti., M.Psi. (Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis Indonesia), Dr. Hakimul Ikhwan (UGM), dan Sekda DIY periode 2017-2019 Ir. Gatot Saptadi.

Disampaikan pada rapat tersebut, beberapa klausul yang dapat ditindaklanjuti Pemda DIY sebagai berikut:

  • Pendekatan kepada Masyarakat
  1. Masih terdapat kelompok masyarakat yang minim informasi soal Covid-19 terutama masyarakat di wilayah pedesaan dan kelompok yang bukan pengakses media sosial.
  2. Terdapat masyarakat yang tidak berlaku jujur untuk mengakui bahwa yang bersangkutan positif Covid-19 sehingga menghambat proses 3T yang akan dilakukan.
  3. Beberapa lansia atau anggota masyarakat hanya hadir pada vaksinasi dosis pertama, namun tidak hadir pada saat vaksinasi dosis kedua.
  4. Masyarakat paham protokol kesehatan, namun perilakunya belum mencerminkan hal tersebut
  • Pendampingan Kelompok Masyarakat    
  1. Pentingnya penguatan pada pendampingan keluarga terutama keluarga atau anak-anak yang anggotanya atau ayah dan ibunya meninggal dunia karena Covid-19
  2. Pendampingan untuk tenaga kesehatan yang saat ini sangat lelah dalam memberikan perawatan atau penanganan pasien positif Covid-19
  3. Diperlukan pendampingan intensif kepada pasien positif yang melakukan isolasi mandiri di isoter
  4. Permasalahan psikologis pada level awal juga perlu diperhatian, agar tidak menimbulkan gangguan kejiwaan
  • Manajemen Data dan Koordinasi Lintas Sektor
  1. Pentingnya penguatan manajemen satu data yang memuat mengenai data-data terkait penanganan Covid-19 seperti jadwal vaksinasi, stok vaksin, bantuan sosial, data relawan, stok oksigen, dan sebagainya (sistem data lapangan yang komprehensif)
  2. Pembuatan 1 pos komando (induk) sebagai pusat integrasi informasi, data, dan pengalaman dari berbagai pihak 
  •  Sosialisasi dan Perubahan Perilaku Masyarakat
  1. Sosialisasi penggunaan masker perlu dilakukan dengan pendekatan personal dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar.
  2. Perlunya keterlibatan komunitas untuk bisa membantu proses sosialisasi protokol kesehatan dan ajakan vaksinasi
  3. Masyarakat yang belum menyadari pentingnya vaksinasi perlu diperlakukan dengan pendekatan khusus
  4. Pendekatan budaya sesuai dengan karakter DIY dapat dijadikan suatu amunisi yang kuat karena sesuai dengan karakter dan kearifan lokal warga DIY
  • Strategi dan Program Mitigasi Bencana (Jangka Panjang)
  1. Vaksin tak bisa 100% diandalkan sebagai perisai pandemi, namun tetap perlu dilakukan setiap warga untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar dampak paparan Covid-19 dapat diminimalisir. Oleh karenanya, ajakan vaksinasi perlu disampaikan lebih gencar
  2. Perlu strategi khusus penanganan pandemi, sebab dimungkinkan keberadaannya akan berlangsung lama
  3. Pembentukan 2 layer manajerial penanganan Covid-19 yakni layer pengambil kebijakan dan layer pelaksana operasional
  4. Pengadaan fasilitas seperti RS Lapangan sebagai antisipasi kembali terjadinya lonjakan kasus
  5. Pelayanan pasien non Covid-19 tetap menjadi prioritas
  6. Penguatan keterlibatan tokoh yang mempersuasi untuk vaksin dan menerapkan protkes 

Di samping itu, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah pengoptimalan Satgas Covid-19 yang berada di level terkecil tingkat RT/RW. Peranan dari Satgas ini tidak hanya melakukan distribusi logistik, pemindahan pasien dari isoter/rumah ke RS, atau membantu kegiatan 3T saja. Satgas Covid019 tingkat desa juga dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat pentingnya penerapan protokol kesehatan, ajakan vaksinasi, serta memberikan edukasi agar masyarakat yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, bersedia pindah ke isoter karena pengecekan kesehatan lebih terpantau, fasilitas serta logistik lebih terjamin.

Sri Paduka selanjutnya menyampaikan apresiasi terkait dengan usulan dari para ahli. Beliau akan segera menindaklanjuti usulan-usulan tersebut untuk memaksimalkan penanganan Covid-19 di DIY. “Saya kira ini usulan yang baik, kepedulian rekan-rekan dalam penanganan pandemi akan sangat membantu kinerja pemerintah daerah,” ujar Sri Paduka.

Hal senada juga diutarakan Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji. Aji menginstruksikan agar setiap OPD DIY yang diberikan tanggung jawab dan terlibat dalam penanganan Covid-19, untuk segera melakukan rapat koordinasi. “Bapak/Ibu yang menjadi koordinator pada setiap OPD DIY, mohon segala usulan ini dijadikan perhatian. Segera adakan rapat tindak lanjut dengan para tenaga ahli dan pakar tadi agar segera menentukan prioritas yang bisa dilakukan,” tutupnya. [vin]

 

HUMAS DIY   

(artikel juga dimuat pada laman web jogjaprov.go.id/berita )


© Official website Pemerintah Daerah DIY. 2020